Zikir dan Perubahan Sikap Hidup

19 Januari, 2010 at 3:17 pm 1 komentar

Sikap hidup yang baik merupakan cerminan pribadi muslim yang baik pula. Di dunia ini tidak ada satu orang pun yang belum pernah berbuat dosa dan kesalahan. Tiap orang pernah melakukan kesalahan baik itu kesalahan kecil maupun yang besar. Orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, akan tetapi orang yang baik adalah orang yang dengan segera kembali kejalan yang benar setiap kali ia melakukan kesalahah. Zikir merupakan media penyucian diri dengan jalan merendahkan diri di hadapan Allah  SWT dan membersihkan hati dari kotoran (najis) dari berbagai hasrat hati yang jelek. Seperti sombong, serakah, iri dan suka berdusta. Dengan  zikir manusia diharapkan dapat melawan hawa nafsu dan keinginan  berbuat dosa dengan selalu mengingat pada Allah SWT.

Dengan demikian zikir seperti obat, yang dapat menyembuhkan penyakit bagi orang yang mengidapnya. Namun manfaat khusus dengan selalu berzikir kepada Allah adalah terjadinya perubahan ruhani menuju yang lebih baik. Perubahan ruhani menuju yang baik akan meng- akibatkan berefek pada kesehatan jasmani juga.

Dalam berzikir harus dilakukan dengan menyesuaikan maqamnya. Penyesuaian ini perlu karena jika tidak, akan berakibat pada frustasinya orang tersebut. Karena langsung melakukan hal-hal yang berat menurut hatinya. Untuk memulai berzikir hendaklah dengan menyebut asma-asma Allah. Nama-nama yang mulia ini merupakan cara yang baik untuk mengawali ber-zikir. Dengan mengucapkan  nama-nama Allah akan memberikan persepsi pada orang tersebut. Karena pada asma-asma Ilahi itu terdapat dua dimensi.

Menurut Muhammad Mahdi Thabathaba’i Bahrul Ulum, seorang syaikh sufi, yakni  pertama  setelah pemahaman nama-nama ini terhadap dirinya sendiri; sebab masing-masing darinya mengandung spritualitas khusus (ruhaniyyah khashah). Sedangkan yang kedua, sumber nama-nama ini, yaitu Allah SWT, dimana cahaya sempurna (an-nuraniyyah at-tammah) tampak dan memanifestasi dalam nama-nama itu.

Pada setiap nama dari nama-nama Ilahi yang mulia akan tampak dua aspek itu. Dan setiap nama merupakan manifestasi dari dua aspek tersebut, yaitu aspek spritualitas (ar-ruhaniyyah) dan cahaya (an-nuraniyyah). Ketika seorang yang sedang berfikir menyebut asma-asma Allah, maka ruhaniyyah dan nuraniyyah nama itu akan tampak, dan akan memanifestasi pada eksistensi pezikir.  Kedua aspek tersebut akan mewujud dalam satu pribadi, dan ini tampak pada sikap-sikap lahiriah dari perilakunya.

Sesungguhnya menyibukkan diri dengan zikir, yang merupakan manifestasi dari harapan, cinta, karunia, rahmat, kelembutan; yang merupakan perwujudan dari rasa takut, kekuatan, marah, siksaan, dan pengawasan, atau yang merupakan perwujudan dari kebesaran, ketinggian, keagungan, semua itu harus dilakukan sesuai dengan tuntutan keadaan, dan sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak terjadi kerusakan dan pengaruh yang berlawanan.

Allah Yang Maha agung, Yang Mencurahkan ribuan karunia, kasih sayang, nikmat dan rahmat, kebaikan umum dan khusus, materi dan ruhani. Tak seorang pun mampu melunasi hutangnya dengan sempurna. Maka, seorang hamba harus berusaha sekuatnya dalam meningkatkan  derajat zikir untuk menggapai semua sisi (baik secara kualitas maupun kuantitas) sehingga ia benar-benar merasakan hakikat zikir dan konsentrasi.

Sesungguhnya zikir dan menghadap Allah SWT merupakan sarana satu-satunya untuk merasakan keterikatan dan kedekatan dengan keagungan-Nya. Selama manusia belum mendekat kepada maqam kepada Allah SWT dan keindahan-Nya, maka ia tidak dapat mengenal hakikat tauhid al-af’ali dan ash-shifathi. Ketika ia berhasil menetap di wilayah tauhid itu dan menyaksikan langsung hakikat ini, maka ia akan memperoleh taufik pengetahuan maqam al-fardaniyyah, yaitu penyaksian hakikat tauhid zat. Di sinilah seorang hamba akan mengetahui hakikat penghambaannya dan kefanaannya.

Menurut Bahrul Ulum, seorang yang syaikh yang banyak mempunyai pengalaman ruhani ada lima hal yang diperlukan dalam melakukan zikir. Pertama: Hendaklah ia membayangkan cahaya wali dan Rasul pada saat zikr al-khayali. Dengan juga diiringi rasa rendah diri terhadap sesuatu yang dijadikan objek zikir, dan ia berharap agar ia dikarunia syafaat. Rasul dan para wali ini menjadi proyeksi hidup dalam menjalani kehidupan. Figur-figur suci ini akan memberikan keteladanan dan semangat untuk melaksanakan perintah Tuhan.

Pada tahap-tahap permulaan seorang yang berzikir mungkin belum berpisah dengan dunia, dan termasuk pesona dunia adalah panca inderanya yang zahir dan batin, dan ia belum memeperoleh keadaan tobat dan konsentrasi pada alam metafisik. Oleh karena itu, hendaklah jalan menuju kebenaran Ilahi tidak condong kepada arah yang lain, karena perjalanan ruhani merupakan sarana menuju keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.

Hal yang kedua, yaitu berwirid. Dengan wirid ini orang-orang yang tertutup dan ornag-orang yang memiliki hati yang hitam, para pecinta dunia, orang-orang yang terpolusi dengan ketergantungan pada lahiriah sebagai akibat dari ketenggelaman dalam kecenderungan- kecenderungan nafsu dan program-program materi, dimana mereka tidak mampu memperoleh dengan mudah  keadaan tobat, konsentrasi, dan suasana spritual.

Maka dengan berwirid orang tersebut harus membebaskan dirinya dari berbagai belenggu dan dari kegelapan penyimpangan serta dari berbagai hijab lahir dan batin. Wirid menjadi sebuah sarana praktis untuk melakukan latihan-latihan ruhani. Dengan keteraturan wirid maka akan timbul sebuah kebiasaan untuk selalu mengingat Allah dalam segala tempat dan sepanjang waktu.

Ketiga yaitu munajat. Munajat berarti menunjukkan sesuatu yang tersembunyi dalam hati dan batin manusia, dan menampakkan maslah- masalah yang tersembunyi dengan berbicara. Munajat merupakan sarana terbaik untuk memperoleh keterikatan dan mewujudkan konsentrasi penuh serta menghilangkan tabir-tabir antara hamba dan Allah SWT. Keterikatan dan hubungan ruhani dalam munajat berbeda dengan zikir. Munajat dilakukan setelah menguasai keadaan tertentu, dan sesuai dengan tuntutan keadaan itu, dari rasa takut dan berharap, meminta maaf, menunjukkan penghambaan dan ketundukkan serta rasa cinta dan sebagainya, tetapi zikir justru berusaha menciptakan keadaan tersebut.

Bagian keempat, untuk berzikir hendaklah sebisa mungkin memulai dengan pikiran. Seseorang hendaklah mengerti dan sadar dalam memperhatikan objek pikirannya harus sesuai dengan kekuatan spritual dan basirahnya. Pikiran itu sama dengan pencapaian spiritualitas dan peniupan ruhani dalam zikir. Banyak hakikat-hakikat yang tidak dapat dicapai dengan ibadah-ibadah yang banyak, yang ternyata menjadi jelas dan tersingkap melalui pemikiran , yang dilakukan dengan konsentrasi khusus dan dengan kejernihan hati. Pada sebagian keadaan dari pemikiran satu jam saja sebanding dengan ibadah tujuhpuluh tahun yang dilakukan tanpa konsentrasi dan makrifat bahkan pemikiran jauh lebih baik darinya.

Sedangkan kelima adalah menjaga kesinambungan. Menjaga Kesinambungan seluruh zikir dan wirid sehingga kefektifannya akan tampak.  Keefektifan ini dengan memperhatikan maqam dan derajat dari zikir tersebut. Dengan melaksanakan secara teratur dan waktu yang khusus akan memberikan dampak yang luar biasa bagi perubahan ruhani. Dari semua hal tersebut, ada faktor yang cukup penting saat melaksanakan zikir. Dalam menjalankan zikir ini hendaklah didukung oleh lingkungan, misalnya keluarga. Karena ini akan menunjang kekhusuan dalam berzikir. Gangguan-gangguan yang tidak perlu seperti suasana rumah yang berisik, dapat terhindar jika keluarga sudah mengerti anda sedang berzikir.

Demikian pula dengan  masalah jiwa sosial. Zikir bukanlah penghalang untuk  mengabaikan persoalan kemasyarakatan. Karena jiwa sosial adalah bentuk kecintaan dalam menjalankan dan memperbaiki suatu persoalan, juga usaha mengurus dan menjaga keluarga. Ketika hubungan dan kesatuan antara berhubungan kepada Allah dan juga masyarakat  menguat, maka jiwa sosial akan meningkat pada tingkatan keikhlasan yang lebih. Karena perilaku sosial pezikir itu bukanlah sebuah perbuatan artifisial semata, tapi merupakan integrasi antara aspek ruhani dan lahiriah.

(Dari berbagai sumber)

Entry filed under: Al-Islam. Tags: , , , , .

Ketika Dosa Kita Sedalam Samudra Hikmah Dibalik Rasa Sakit

1 Komentar Add your own

  • 1. rizky laksmita dewi  |  7 Mei, 2015 pukul 5:02 am

    Subhanallah. Terima kasih sangat membantu dlm pembuatan KTI.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Waktu Saat Ini

Arsip

Kata Bijak

Ketakutan dan kekhawatiran yang tidak beralasan tidak akan membawa perubahan apapun pada kehidupan kita. Keberanian mengambil risiko dengan di iringi do’a dan rasa percaya diri merupakan awal dalam meraih kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Pengunjung

  • 947,371 visitors

Negara Asal Pengunjung

free counters

Lokasi Pengunjung

Poling Hari Ini

Pembaca Terakhir

Join My Community at MyBloglog!
Jangan asal copy paste ya..
Academic,  Learning & Educational Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Website saya nilai
Rp 27.64 Juta

alexaku
counter


%d blogger menyukai ini: